Sabtu, Maret 15, 2008

Mukena

Bulan lalu-saat menemani teman membeli barang2 seserahan utk adiknya yg akan menikah-di sebuah toko busana muslim di jakarta, saya berhenti di sebuah manekin yg memeragakan mukena yg cantik. Mukena itu berwarna salem, gold dan ada juga yg broken white, berbahan sutra organdi dan sutra sifon yg mewah. Sangat lembut.. Hiasan bordir dan sulam juga renda bahkan batu2an spt mutiara dan swarozski menempel mempercantik penampilan mukena tsb. "Wow..keren bngt!" kata teman saya. Iya..batin saya, pasti harganya mahal..pikir saya lagi-sambil tangan saya mencari2 bandrol yg tergantung disampingnya. Haa!.. 3 juta rupiah..! harga tercetak di bandrol itu..bahkan yg berwarna gold 'cukup' 4,5 juta saja!..weleh2.. :o

Teringat mukena yg saya punya, beli hanya dengan250rb saja..menurut saya sudah harga yg fantastis. Mukena bordir itu selalu saya pakai pd kesempatan istimewa..shalat ied wkt lebaran misalnya.. :). Shalat di rumah 'hanya' memakai mukena putih polos pemberian mendiang ayah saya.
Saya jg teringat mukena2 yang teronggok di masjid atau mushalla2..kumul, lusuh dan jelek. Sehingga saat kita terpaksa melaksanakan shalat karena lupa membawa mukena, dgn jijik kita memakai mukena tsb. Jangan bayangkan baunya, atau bahannya yg kasar dengan warna nyaris coklat karena dekil.

Andai..mereka yang punya uang itu tidak membeli mukena seharga 3 juta. Tapi uangnya untuk membeli puluhan mukena sederhana yang diletakkan di masjid/mushalla. Subhanallah..

Saya kembali berfikir..apa iya, shalat dengan mukena mewah itu akan lebih khusyuk? Apa Allah akan lebih menerima amalan si mukena mewah ketimbang mukena sederhana? Apa tidak menjadi sombong ketika berdampingan dgn jamaah lain, atau sibuk membanding2kan dgn mukena orang lain-yang jangan2 lebih bagus dan lebih mahal. Dan tentu saja agak susah mengikhlaskannya dipinjam jamaah lain yang lupa membawa mukena.

Eh, saya jadi teringat sebuah tulisan. Kisah perjalanan seorang Nasrani yang tertarik kepada Islam dan menjadi mualaf justru karena pesona mukena putih. Ia tertarik dengan cara umat Islam saat melaksanakan ibadah shalat. Islam tidak membeda2kan orang berdasarkan kekayaan atau kedudukan.
Pada saat shalat jamaah di masjid, semua dalam derajat yang sama . Semua bersimpuh di bawah. Dalam balutan mukena putih yg sama, tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Followers

©2009 Tisti Rabbani | by TRB